Di dunia game digital, satu hal yang tak pernah berhenti jadi perbincangan adalah perang eksklusivitas antara dua platform raksasa: Steam dan Epic Games Store. Meski keduanya menawarkan layanan serupa — menjual game digital dengan fitur komunitas — strategi yang mereka ambil sangat berbeda. Dan pada Oktober 2025 ini, persaingan itu kembali memanas.
Beberapa judul besar rilis secara eksklusif di salah satu platform, gamer berdebat di forum, dan developer kembali dihadapkan pada pilihan sulit: bergabung dengan kenyamanan ekosistem Steam, atau mengejar keuntungan lebih besar dari Epic Store.
Lalu, siapa yang unggul kali ini?
1. Akar Persaingan: Dua Filosofi yang Berbeda
Untuk memahami persaingan keduanya, kita perlu melihat filosofi di baliknya.
-
Steam, yang dikembangkan oleh Valve sejak 2003, fokus pada ekosistem dan komunitas. Dengan jutaan pengguna aktif setiap hari, Steam menjadi semacam “rumah” bagi para gamer — lengkap dengan fitur forum, workshop, mod, dan marketplace item digital.
-
Epic Games Store (EGS), yang hadir pada 2018, datang dengan semangat “revolusi industri game digital”. Mereka menantang dominasi Steam dengan bagi hasil 88:12, di mana developer mendapat 88% dari penjualan, jauh lebih tinggi dibanding 70:30 milik Steam.
Perbedaan filosofi inilah yang membuat keduanya punya daya tarik tersendiri. Steam kuat di komunitas dan fitur, sedangkan Epic agresif di strategi bisnis.
2. Perang Eksklusivitas Oktober 2025: Siapa Punya Apa?
Bulan Oktober 2025 bisa dibilang salah satu momen paling panas dalam perang eksklusivitas antara keduanya.
Beberapa judul besar yang jadi bahan perdebatan gamer antara lain:
Eksklusif Steam:
-
Cyberpunk 2077: Neural Reborn
-
Stellar Forge 2
-
Half-Life: Reawakening
-
Baldur’s Gate V
Eksklusif Epic Games Store:
-
Alan Wake 3
-
Metro: Origins
-
Fortnite Chronicles (spinoff story mode)
-
Assassin’s Creed: Echoes (limited timed exclusive)
Epic memang berhasil menarik perhatian dengan kontrak eksklusivitas sementara untuk beberapa game besar. Namun, strategi ini tetap memancing reaksi beragam — sebagian gamer merasa “dipaksa” bermain di platform tertentu.
3. Siapa yang Lebih Ramah untuk Developer?
Salah satu keunggulan utama Epic Games Store ada pada sistem bagi hasil. Dengan potongan yang lebih kecil, developer tentu lebih diuntungkan.
Selain itu, Epic juga menawarkan dana pendahuluan bagi studio indie yang mau menandatangani kontrak eksklusif selama beberapa bulan pertama.
Namun, Steam memiliki kekuatan lain: ekosistem yang matang dan dukungan komunitas luar biasa besar.
Game yang rilis di Steam bisa mendapatkan paparan alami melalui review, rekomendasi algoritmik, dan sistem kurator.
Selain itu, fitur seperti Steam Workshop dan Steam Deck optimization menjadi nilai tambah besar bagi pengembang yang ingin memperluas jangkauan audiensnya.
Kesimpulannya, Epic unggul dalam finansial langsung, tetapi Steam unggul dalam dukungan jangka panjang dan komunitas.
4. Pengalaman Pengguna: UI, Fitur, dan Kenyamanan
Kalau bicara pengalaman pengguna, Steam masih jadi standar industri.
Dengan antarmuka yang familiar, fitur seperti cloud save, community hub, achievement system, dan mod support terasa lebih matang.
Epic Games Store memang sudah jauh berkembang dibanding tahun-tahun awalnya.
Kini, mereka punya fitur wishlist, rating sistem, quick launcher, dan in-app chat. Namun, sebagian pengguna masih menganggap tampilan EGS terlalu sederhana dan kurang interaktif dibanding Steam.
Yang menarik, Epic mulai bereksperimen dengan integrasi metaverse — di mana akun Epic bisa terhubung dengan Fortnite Universe dan Unreal Engine Hub. Langkah ini bisa jadi pondasi masa depan untuk ekosistem yang lebih luas.
5. Program Gratisan dan Diskon: Epic Masih Unggul
Tak bisa dipungkiri, salah satu alasan banyak gamer masih membuka EGS setiap minggu adalah… game gratisnya.
Setiap minggu, Epic tetap konsisten memberikan satu hingga dua game premium secara cuma-cuma. Dan di Oktober ini saja, mereka membagikan:
-
Control: Ultimate Edition
-
The Outer Worlds
-
Dying Light 2 (trial 14 hari)
Sementara itu, Steam memang jarang memberikan game gratis. Namun, mereka unggul dalam diskon musiman besar-besaran, seperti Steam Autumn Sale atau Winter Sale, yang selalu jadi ajang belanja tahunan para gamer.
Jadi, jika bicara soal “hemat”, Epic menang di game gratis, tapi Steam menang di diskon massal.
6. Fitur Sosial dan Komunitas: Steam Masih Tak Tertandingi
Salah satu kekuatan abadi Steam adalah komunitasnya. Dari forum diskusi, screenshot sharing, hingga mod marketplace, Steam menciptakan ruang sosial yang hidup.
Gamer bisa saling memberi review, bertukar ide, atau bahkan membangun modifikasi game yang kemudian viral — seperti Garry’s Mod dan Skyrim Mods yang lahir dari komunitas Steam itu sendiri.
Epic Games Store, meski kini mulai membuka fitur Community Space, masih tertinggal jauh dalam aspek interaksi sosial.
Namun, mereka memanfaatkan integrasi Fortnite sebagai jembatan sosial antar pengguna. Jadi, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan, mereka bisa menyaingi Steam lewat pendekatan metaverse.
7. Dukungan Teknologi dan AI: Langkah Baru dari Epic
Menariknya, di Oktober 2025 ini Epic mengumumkan penggunaan Epic AI Companion, fitur berbasis machine learning yang membantu pemain menemukan game sesuai minat dan kebiasaan bermain.
Fitur ini menyaingi Steam Discovery Engine yang sudah lebih dulu terkenal.
Bedanya, Epic AI lebih interaktif — bisa diajak chat layaknya asisten pribadi, memberikan rekomendasi game baru, serta memberi tahu update penting dari judul yang kamu miliki.
Langkah ini menunjukkan bahwa perang eksklusivitas kini bergeser menjadi perang personalisasi pengalaman pengguna.
8. Data dan Keamanan: Siapa yang Lebih Terpercaya?
Isu keamanan data masih menjadi topik hangat.
Steam selama ini dikenal cukup transparan dan stabil dalam menjaga privasi pengguna.
Sementara Epic sempat mendapat kritik karena dugaan “telemetri data” yang terhubung dengan sistem Tencent di masa lalu. Meski hal itu sudah diklarifikasi, stigma tersebut masih melekat di sebagian gamer.
Namun kini, Epic menegaskan komitmennya terhadap keamanan siber tingkat enterprise, bahkan bekerja sama dengan Cloudflare dan Microsoft Azure untuk perlindungan data.
Secara umum, Steam masih lebih dipercaya secara publik, tetapi Epic terus memperbaiki citranya dengan audit keamanan independen.
9. Siapa yang Unggul di Oktober 2025?
Kalau kita berbicara objektif, tidak ada pemenang absolut.
Keduanya kini berkembang menuju arah berbeda, dengan target pengguna yang juga berbeda.
-
Steam unggul di komunitas, fitur, stabilitas, dan pengalaman pengguna klasik.
-
Epic unggul di strategi agresif, game gratis, dan dukungan bagi developer indie.
Namun jika melihat performa Oktober 2025, Steam sedikit di atas angin, berkat peluncuran eksklusif Cyberpunk 2077: Neural Reborn dan Half-Life: Reawakening yang langsung menguasai daftar Top Seller.
Sementara Epic tetap kuat dengan Alan Wake 3 dan Assassin’s Creed: Echoes, tetapi belum cukup mengguncang dominasi Steam di ranah global.
Kesimpulan: Perang yang Tak Akan Berakhir
Pada akhirnya, perang Steam vs Epic bukan soal siapa menang atau kalah, melainkan soal keberagaman pilihan bagi gamer dan developer.
Keduanya memacu industri game digital untuk terus berinovasi — entah lewat teknologi, harga, atau pengalaman sosial.
Dan untuk kita para gamer? Ini adalah kabar baik.
Semakin sengit mereka bersaing, semakin banyak pula keuntungan yang bisa kita nikmati.



