Menoleh Kembali ke Seri Paling Kontroversial
Dunia Soulslike tidak akan pernah sama tanpa kehadiran mahakarya FromSoftware. Namun, di antara trilogi utamanya, DARK SOULS™ II: Scholar of the First Sin (SotFS) berdiri sebagai entitas yang paling sering diperdebatkan. Dirilis sebagai versi definitif dari Dark Souls II, edisi ini bukan sekadar remaster grafis biasa, melainkan perombakan total yang memaksa pemain veteran sekalipun untuk belajar kembali dari nol.
Bagi pengunjung setia Jurnalgaming.id, memahami mengapa SotFS begitu spesial—atau justru dibenci sebagian orang—adalah hal krusial sebelum Anda memutuskan untuk terjun ke dalam kegelapan Drangleic.
Apa Itu Scholar of the First Sin?
Berbeda dengan versi Vanilla yang dirilis tahun 2014, Scholar of the First Sin yang meluncur di konsol generasi baru dan PC membawa perubahan fundamental. Paket ini mencakup:
-
Game dasar dengan penempatan musuh (enemy placement) yang diatur ulang.
-
Tiga DLC legendaris: Crown of the Sunken King, Crown of the Old Iron King, dan Crown of the Ivory King.
-
Peningkatan visual dan performa hingga 60 FPS yang stabil.
-
Penambahan karakter penting, Aldia, yang memperdalam lore tentang kutukan Undead.
Mekanik Gameplay: Adaptability dan Stamina Management
Salah satu poin paling unik dalam Dark Souls II adalah statistik Adaptability (ADP). Di game pertama dan ketiga, invincibility frames (i-frames) saat berguling bersifat tetap. Di SotFS, Anda harus menaikkan atribut ADP untuk mendapatkan kelincahan tersebut.
Banyak pemain baru merasa game ini “lambat” atau “kaku”. Namun, di sinilah letak seninya. Dark Souls II mengharuskan Anda bermain lebih taktis. Stamina sangat berharga; setiap serangan memiliki konsekuensi berat. Anda tidak bisa sekadar melakukan spam guling seperti di Elden Ring. Ini adalah permainan catur dalam bentuk aksi RPG.
Dunia Drangleic: Estetika yang Melankolis
Secara visual, SotFS menawarkan variasi lokasi yang luar biasa. Dari Majula yang bermandikan cahaya matahari terbenam yang tenang, hingga Iron Keep yang tenggelam dalam lautan lava. Desain level di Dark Souls II mungkin tidak se-terhubung (interconnected) seperti Lordran di game pertama, namun setiap area terasa seperti petualangan baru yang memiliki identitas kuat.
Peningkatan pencahayaan di versi SotFS membuat area gelap seperti The Gutter benar-benar membutuhkan obor. Mekanik obor di sini bukan sekadar pajangan, melainkan elemen survival yang esensial untuk navigasi dan mengusir musuh tertentu.
Perubahan Penempatan Musuh: Tantangan atau Frustrasi?
Ini adalah poin yang paling membedakan SotFS. FromSoftware memutuskan untuk memindahkan musuh ke posisi yang seringkali menjebak. Jika Anda terbiasa dengan versi lama, Anda akan terkejut saat disergap oleh Heide Knights yang kini jauh lebih agresif.
Bagi sebagian orang, ini terasa seperti artificial difficulty karena jumlah musuh yang mengeroyok (ganking). Namun bagi penggemar tantangan hardcore, ini memberikan lapisan strategi baru. Anda harus belajar menarik musuh satu per satu menggunakan panah atau barang lempar, sebuah elemen RPG tradisional yang sering dilupakan di game modern.
Konten DLC: Puncak dari Level Design
Jika Anda bertanya pada komunitas Dark Souls, hampir semua setuju bahwa konten terbaik di seri kedua berada di dalam DLC-nya.
-
Crown of the Sunken King: Menawarkan puzzle lingkungan yang kompleks.
-
Crown of the Old Iron King: Menghadirkan salah satu bos tersulit sekaligus paling memuaskan, Fume Knight.
-
Crown of the Ivory King: Membawa mekanisme Eleum Loyce yang bersalju dengan pertarungan bos skala besar yang epik.
Semua konten ini sudah terintegrasi secara mulus ke dalam dunia utama SotFS, memberikan total waktu bermain yang bisa mencapai lebih dari 100 jam bagi para perfeksionis.
Fitur Online dan PvP yang Superior
Hingga saat ini, banyak veteran yang menganggap Dark Souls II memiliki sistem PvP (Player vs Player) terbaik. Mekanik Power Stancing (menggunakan dua senjata sekaligus dengan moveset unik) memberikan variasi build karakter yang hampir tak terbatas.
Konektivitas di SotFS juga ditingkatkan, memungkinkan hingga 6 pemain berada dalam satu sesi. Baik itu membantu pemain lain (co-op) atau menyerang sebagai Invader, interaksi online di Drangleic tetap terasa hidup bahkan bertahun-tahun setelah rilisnya.
Lore: Mencari Makna di Balik Kutukan
Narasi di SotFS terasa lebih personal. Jika Dark Souls pertama berbicara tentang takdir dunia dan para Dewa, Dark Souls II lebih fokus pada manusia, keinginan, dan kegagalan para raja. Kehadiran Aldia, sang Scholar, memberikan perspektif filosofis baru tentang siklus api yang tidak pernah berakhir. “There is no path. Beyond the scope of light, beyond the reach of Dark… what could possibly await us?”
Kesimpulan: Layakkah Dimainkan di Tahun 2026?
Tentu saja. Meskipun mekaniknya berbeda dari seri Souls lainnya, DARK SOULS™ II: Scholar of the First Sin adalah pengalaman yang mendalam dan berharga. Ia berani tampil beda dengan sistem Dual Wielding yang keren, tingkat kesulitan yang menantang akal sehat, dan atmosfer yang tak tertandingi.
Bagi Anda yang datang dari Elden Ring dan mencari tantangan yang lebih lambat namun lebih menghukum, game ini adalah destinasi wajib. Persiapkan mental, nyalakan obor Anda, dan bersiaplah untuk mati berkali-kali di Drangleic.
Penutup dari Jurnalgaming.id: Apakah menurut kalian Scholar of the First Sin lebih baik dari versi aslinya? Atau justru perubahan penempatan musuhnya membuat game ini terlalu sulit? Tuliskan pendapat kalian di kolom komentar di bawah! Jangan lupa pantau terus Jurnalgaming.id untuk berita dan review game terbaru lainnya.



